Minggu, 13 Maret 2011

KUKENANG INDAHNYA HADIRMU...

            Ryo Putradinata, begitu nama lengkap cowok yang kini berperawakan tinggi, hitam, dan kekar. Ryo, begitu sapaan akrabnya kini hanya dapat menyesali perbuatannya terhadap seorang perempuan. Livy, gadis mungil yang masuk kedalam hidupnya justru bukan sebagai pacar atau perempuan pujaannya. Melainkan sebagai sahabat, tempat curahan hatinya di kala ia sedih. Namun, Ryo begitu “mencintainya” sebagai sahabatnya lebih dari apapun.

Ryo berdiri terpaku dengan ditemani derasnya aliran air mata yang membasahi seluruh wajahnya. Kesedihan, kekagetan, dan segala macam perasaan penyesalan begitu melanda hatinya ketika ia menatap rumah baru bagi sahabatnya Livy.
“Liv... kenapa kamu secepat ini meninggalkanku?” Hanya kata tak berarti itu yang bisa memecahkan keheningan daerah pemakaman pada siang itu.
Sesaat kemudian, secara cepat siluet kenangan tiga tahun silam yang bagai film berputar kembali memenuhi benak Ryo.

***

Tiga tahun silam...
Ryo dikenal sebagai sosok cowok yang bertubuh tambun namun memiliki seorang sahabat yang tidak pernah disangka bisa hadir dalam hidupnya. Awal kedekatan mereka adalah karena Ryo jatuh cinta kepada sahabat dekat Livy yang bernama Vivi.
Setiap malam Livy pasti meluangkan waktunya untuk mendengar curhat Ryo. Ryo bahkan tidak pernah menyangka bahwa seorang Livy yang berparas cantik dan bertubuh mungil dan menggemaskan itu bersedia bersahabat dengan Ryo yang bertubuh tambun.
“Ryo... persahabatan terjalin bukan hanya melihat keadaan fisik kita!! Tapi bagaimana kita bisa saling berbagi suka maupun duka, kuingin menjadi sahabat bagi siapapun... bagi dunia ini...!! siapapun, apapun, dan bagaimanapun kamu, tetaplah sahabatku...” Ucapan inilah yang selalu membesarkan hati Ryo.
“Kamu memang sahabat sejatiku, apapun yang terjadi dan yang kumiliki tidak akan berarti tanpa kehadiranmu!” Ucap Ryo memuji Livy.
“Jangan begitu memuji, biasa aja lagi...” Ungkap Livy dengan seulas senyuman manisnya.
Hubungan persahabatan mereka memang terjalin baik. Livy maupun Ryo dapat sama-sama saling membantu dalam segala hal. Bagi Livy, Ryo juga sangat berarti sebagai sahabatnya dan ia senang sekali denga kehadiran Ryo yang secara tulus ingin bersahabat dengannya. Karena Livy sering dikecewakan oleh sahabat-sahabatnya yang selalu berniat memanfaatkan kebaikannya. Sangat berbeda dengan Ryo yang membutuhkan dirinya namun juga memberikan kekuatan dan tenaga untuk Livy di kala Livy sangat membutuhkannya.
 Perjuangan Ryo untuk mendapatkan cinta Vivi ternyata tidak disambut baik oleh Vivi. Rasa cinta itu yang membuat Ryo berusaha untuk memperjuangkan Vivi untuk menjadi miliknya. Berusaha menjadi cowok impian Vivi. Seorang Ryo yang tambun berusaha untuk diet hanya untuk dapat disukai Vivi yang memang terkenal cantik.
Ryo juga terkenal akan kepintarannya dalam menanggapi pelajaran dan ia selalu berusaha membantu Vivi dalam hal pelajaran.
“Ryo... tolong bantu aku cariin artikel tentang perkembangan komputer dong...” Pinta Vivi memohon.
“Beres Vi...” Jawab Ryo enteng.
Ryo memang sudah berusaha memanjakan Vivi dengan segala kemampuannya meskipun Ryo tahu bahwa Vivi sudah menjadi milik orang lain. Pada kenyataannya tidak bisa disangkal bahwa hubungan persahabatan rupanya terjalin lebih erat dibanding kesetiaaan untuk mencintai seseorang.
Ryo yang pada dasarnya sudah putus cinta kemudian mengambil keputusam yang tiba-tiba untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Livy benar-benar sedih harus kehilangan sahabat lagi.
“Kamu mau kuliah di Amrik?” Tanya Livy kaget.
“Iya Liv, prospeknya lebih menjanjikan buat masa depan. Disini pun percuma saja... orang yang kucintai tidak menerimakutetapi terus menerus memberi harapan padaku... aku capek!!!” Ungkap Ryo agak kesal.
“Hm... kamu masih pulang ke Indonesia kan?” Tanya Livy khawatir jikalau Ryo tidak akan pulang lagi.
“Tenang saja... aku pasti pulang, mungkin gak cepat... tapi pasti pulang!” Kata Ryo meyakinkan Livy.
“Ya udah... kamu mesti sukses di sana, apapun yang terjadi aku pasti mendukung semua keputusanmu bila itu masih wajar. Kamu harus menjadi orang pintar dan berguna bagi orang di sekitarmu namun jangan pernah lupakan Tuhan ya...!!!” Pesan Livy panjang lebar.
“Oke cerewet... kamu juga jaga diri yah...! Kamu tuh cewek, makanya harus hati-hati, cari cowok yang baik dan yang bisa melindungimu!!” Pesan balik Ryo yang begitu menyayangi Livy.

***
Perencanaan Ryo untuk kuliah di Amerika memang belum matang benar, oleh karena itu hanya sebagian orang saja yang tahu akan kepergiannya termasuk Livy.
Namun kebahagiaan Livy harus sirna di kala Ryo semakin berubah. Ryo semakin merasa bahwa dia hanya dimanfaatkan oleh Vivi karena Vivi juga tahu bahwa Ryo menyukainya. Ryo semakin yakin ketika tugas kuliah mereka menumpuk dan dengan mudahnya Vivi selalu meminta bantuan dengan manja kepada Ryo seakan tidak ada lagi orang yang dapat dimintai bantuan olehnya.
Akhirnya Ryo semakin cuek dengan Vivi maupun Livy yang terkenal dekat dengan Vivi. Ryo dan Vivi menjadi musuh bebuyutan, Livy yang berada di tengah-tengah mereka menjadi semakin sulit. Livy memang tidak pernah mengerti permasalahan yang menyebabkan kedua sahabat terbaik menjadi saling bermusuhan.
“Apa kamu lihat-lihat?” Kata Vivi galak.
“Siapa juga yang lihat kamu... Ge-eR banget kamu...” Balas Ryo sama sengitnya.
Saat itu, Livy benar-benar bingung dengan keadaan dirinya. Di satu sisi, Vivi selalu menjelek-jelekan Ryo di depan dirinya. Dan di sisi lain, Ryo diam seribu bahasa terhadap Livy maupun Vivi.
Ryo berubah menjadi laki-laki menyebalkan yang sok hebat dan sok cuek-setidaknya begitulah Livy beranggapan. Pergaulan Ryo ikut berubah, dia cenderung bergaul dengan anak-anak yang dipredikatkan sebagai kawanan nakal yang selayaknya dikenal sebagai preman kampus. Livy kecewa banget dengan perubahan Ryo.
Akhirnya kesabaran Livy berada di ambang batasnya. Setelah berkali-kali Livy mencoba berbicara dan bermaksud membantu membantu Ryo, namun selalu dihindari Ryo, Livy benar-benar tidak bisa lagi menahan emosinya.
“Ryo... kamu kok nyuekin aku terus? APA SIH SALAHKU... DAN VIVI???” Tanya Livy penuh emosi ketika Livy sengaja menunggu kesempatan saat bisa berbicara berdua dengan Ryo.
“Sudah... jangan ngomongin Vivi lagi!!! Dasar cewek gak jelas dia...!!” Ungkap Ryo kesal dan marah.
PLAK!
Emosi Livy tiba-tiba terlompat keluar dan menampar pipi tembem Ryo yang saat itu sedang berdiri dihadapannya.
“KAMU JANGAN ASAL BICARA... VIVI BUKAN CEWEK KAYAK GITUU!! AKU BARU TAHU YAH ... KALAU KAMU TUH BUKAN COWOK SEJATI, BISANYA CUMAN NYALAHIN ORANG!!! CERMIN SIKAPMU, APA BENAR VIVI YANG GAK BAIK ATAU KAMU YANG BODOH DAN EGOIS?? KAMU JUGA SUDAH TAHU KALAU VIVI SUDAH PUNYA PACAR, NGAPAIN LAGI KAMU DEKETIN DIA KALAU HANYA TUJUANMU BUAT MEMILIKI SESUATU YANG ENGGAK MUNGKIN KAMU MILIKI? APA ITU YANG DINAMAKAN CINTA?” Ungkap Livy habis-habisan dengan luapan emosi yang memuncak.
“ARGH... kamu juga SALAH! Suka banget ikut campur masalah orag! Terserah aku mau melakukan apapun, itu hakku!!!! Lagian teman kamu itu sukanya manfaatin aku” Balas Ryo tajam.
“Nafsu...” Gumam Livy pelan sambil memandang ke bawah dengan air mata menitik membasahi lantai di bawahnya ketika Ryo beranjak pergi. Livy tidak menanggapi apa yang Ryo ucapin sebagai asas pemanfaatan itu, walaupun Livy mendengar dengan jelas apa yang Ryo ucapin.
“Apa yang kamu bilang?” Tanya Ryo penasaran, tanpa membalikkan badan yang sesaat tadi ingin beranjak pergi. Ia hanya bediri mematung di tempat.
“ITU BUKAN CINTA! ITU NAFSU INGIN MEMILIKI!!! KAMU MUNAFIK JIKA BILANG ITU CINTA!! KAMU TAK PANTAS MENGUCAP CINTA!!!” Lanjut Livy akhirnya menghantam lagi Ryo dengan kata-katanya yang dasyat itu.
“KAMU GAK BERHAK MENJELEK-JELEKKAN VIVI! Terserah kamu mau bilang aku apa... aku tak peduli!! Asal kamu tahu, kamu ngecewain aku banget... padahal qku sudah menganggapmu sahabat sejati, aku benar-benar kecewa banget sama kamu!!!” Ungkap Livy lagi benar-benar kecewa dan sedih, namun Ryo tidak memperdulikannya.
Hati Livy benar-benar sakit diperlakukan begitu tidak dihargai oleh seseorang yang sudah benar-benar dianggapnya sebagai sahabatnya.
Ryo sendiri tidak mengerti, mengapa dia harus memusuhi Livy juga, mungkin Livy terlalu dekat dengan Vivi. Sebenarnya Ryo tidak ingin berbuat sekejam saat itu, meninggalkan Livy yang berada dalam keadaan yang menyedihkan. Ryo juga tidak pernah bermaksud untuk bersikap cuek terhadap Livy. Ryo hanya berusaha tidak terlalu dekat dengan Livy walaupun Ryo ingin tetap dekat dan tetap bisa curhat dengan Livy. Ryo melakukannya semata-mata hanya karena ia akan segera berangkat ke Amerika. Semua itu agar Livy tidak sedih melepas kepergiannya yang entah kapan akan kembali lagi. Sampai pada saat keberangkatannya pun Ryo tidak mengucap sepatah katapun.

***

Tepukan di bahunya menyadarkan Ryo dari lamunan panjangnya ketika ia berjongkok di sisi pembaringan Livy.
“Ryo...” Panggilan lembut menyapu semua lamunannya.
“Vi...!?” Jawab Ryo kaget akan kedatangan Vivi, perempuan yang dulu pernah masuk ke dalam hatinya dan pernah sangat dimusuhinya.
“Vi... kenapa Livy bisa meninggal?” Tanya Ryo sambil mengucurkan air mata yang rasannya tak habis-habisnya sejak tadi.
“Dia... kecelakaan saat bermaksud berangkat ke airport, mengejarmu dan ingin memberimu sebuah novel, sebagai kenangan darinya!” Cerita Vivi singkat sambil menyerahkan novel yang telah terpecik darah yang sudah mengering.
Sambil menoleh dan menatap Vivi, Ryo mengambilnya dari tangan Vivi. “aku tahu dari tante Vinny, ibunda Livy yang mengatakan kalau kamu baru saja pergi dari rumahnya... makanya tante menitipkan buku ini untuk kuserahkan padamu Ryo...”
Dibukanya lembaran pertama yang tercantum ‘To : sahabat sejatiku Ryo’. Langsung saja air mata Ryo yang sudah mulai mengering kembali mengalir deras. Terngiang kembali “...kuingin menjadi sahabat bagi siapapun... bagi dunia ini...!!! siapapun, apapun, dan bagaimapun kamu, tetaplah sahabatku...”. Ryo terbayang kembali kenangan indah itu dan senyuman manis yang bersahabatnya Livy.
“...Asal kamu tahu, kamu ngecewain aku banget... padahal aku sudah menganggapmu sahabat sejati, aku benar-benar kecewa banget sama kamu!!!...” terngiang pula rasa bersalah saat pertengkaran mereka dan penyesalan Ryo meninggalkan Livy dalam keadaan menangis dan sakit hati. Dihalaman yang terakhir tercantum kata-kata sederhana karangan Livy...

Terima Kasih Teman

Ucapan tulus ini...
Terukir jelas dalam benak bayang kenangan
Terpaut erat dalam kata
Berbisik indah dari nuraniku
Semoga terdengar indah dalam hatimu...
Terima kasih teman

Syukurku milikimu...
Duduk disamping di kala kuduka dan kusuka...

Indah hari bersamamu
Terukir jelas di hati...
Kukenang engkau selalu...

          Tetesan air mata Ryo semakin deras. Memang sangat aneh untuk Ryo yang pantang menangis. Belum lega hati Ryo menyesal dan menumpahkan tangisnya, ternyata si bawahnya masih ada pesan yang begitu membuatnya semakin menyesal.

PS : Ryo... apapun yang terjadi, kita tetaplah Sahabat. Meskipun terdapat badai dalam persahabatan kita, namun yakinlah mentari maaf selalu menyinari, cahaya kash selalu membelai lembut harimu. Jangan putus asa... ingat selalu Tuhan senantiasa membantumu... berjuanglah... raih kebahagiaan, jamah kesuksesan...!!
Friends Forever!

“ARGH... Livy.. aku salah sama kamu. Aku menyesal, kuselalu menyayangimy sebagai sahabat terbaikku... aku tidak akan pernah melupakanmu...!! Pertemuan terakhir untuk selamanya, aku malah nyakitiin kamuu!!!” Jerit Ryo pilu.
“Ryo...” Gumam Vivi pelan.
“Hah?” Sesaat Ryo terbengong.
“Maafin aku yang dulu nyusahin kamu ya... Livy ada cerita kalau wajtu pertengkaran dulu, ia mendengar kamu ngucapin kalau aku manfaatin kamu... maafkan aku yah...?” Ungkap Vivi merasa bersalah.
“Hm... hal itu sudah lewat Vi... mau bagaimanapun tidak akan mengembalikan Livy... tenanglah... bagiku itu udah berlalu dan tak perlu dipermasalahkan lagi Vi...”
“Kalau gitu, aku pulang duluan ya...” Pamit Vivi.
“Oke...” Jawab Ryo berdiri sejenak untuk mengantarkan kepergian Vivi yang datangnya agak mendadak, yah... memang saat itu adalah hari peringatan kematian Livy. Jadi sebagai sahabat baik Livy, Vivi datang berkunjung sekaligus menyerahkan keinginan Livy untuk menyampaikan buku itu kepada Ryo. Lembayung senja yang berwarna jingga sudah menampakkan dirinya disertai kepulangan Vivi sore itu.
Ryo memanglah bukan Ryo yang dulu. Bukan lagi Ryo tambun, sekarang Ryo yang kekar meskipun agak sedikit tambun. Namun kegendutannya ditutupi oleh otot-ototnya yang sudah bermekaran. Bukan hanya fisik yang berubah namun Ryo sudah kelihatan jauh lebih dewasa. Bahkan Vivi sempat kaget dengan perubahan Ryo yang sangat drastis.
“Liv... dulu aku bukannya nyuekin kamu, tapi aku pengen kamu enggak berat melepaskan kepergianku! Maaf Liv... gara-gara novel kenangan yang tak tergantikan untuk selamanya kamu harus terbaring disini... mungkin bukan... gara-gara kamu ingin melepas kepergianku...!!! always friends foerever...” Ungkap Ryo lirih seraya menciumi nisan Livy. Langit yang jingga keemasan itu sudah berubah semakin gelap, sekelompok burung gagak berkoak-koak di atas langit sore itu. Ryo beranjak dari tempatnya dan berjalan meninggalkan tanah pemakaman tersebut.
“Friends forever” Entah suara darimana yang membalas ucapan Ryo. Namun Ryo tidak peduli dengan kejadian yang sedikit ganjil tersebut. Malah Ryo menjawab, “Always!” Seraya menoleh pada rumah lain yang terbaring sosok mungil Livy sejak tiga tahun silam.
Sesaat ia dapat melihat bayangan Livy tiga tahun silam yang sedang tersenyum manis. Air mata lagi-lagi menemani langkahnya meninggalkan tanah pemakaman itu.
“Tuhan.. terimalah Livy, sahabat terbaikku di sisi-Mu, semoga ia bahagia di sana!” Bisik Ryo dalam hati memohon pada Tuhan sambil memandang langit keemasan yang mulai gelap sore itu.

-THE END-


~Lily Zhang~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar