Jumat, 03 Februari 2012

Cleaning B-Heart (Part 1)

HEADLINE :
SISI MULIA KRIMINAL KELAS KAKAP : WHITE ROSE

Belakangan ini para pejabat dan pengusaha kaya dicekam ketakutan. White Rose, komplotan kriminal kelas kakap yang sangat sulit ditangkap menjadi ancaman tak terungkap bagi mereka. Manipulasi, penipuan, bahkan perampokan menjadi keahlian mereka yang sulit dikalahkan bahkan oleh tim ahli yang dibentuk oleh negara. Namun White Rose memang kriminal unik. Setiap kali mereka bertindak, pihak kepolisian akan memperoleh bukti-bukti kriminalitas dari korban. White Rose banyak mengungkap beberapa kriminalitas perebutan harta dengan pemalsuan dokumen, korupsi, bahkan pembunuhan dengan alibi sempurna untuk memperoleh asuransi korban.
Tidak hanya beberapa kejadian yang pernah diliput oleh media. Pihak kepolisian menyebutkan, sudah banyak kejadian yang diakibatkan oleh White Rose yang menimbulkan banyak kerugian bagi pengusaha maupun pejabat. Namun, anehnya kalangan ekonomi bawah selalu mengagungkan White Rose. Meskipun mereka tidak tertarik untuk bercerita, kemungkinan White Rose banyak menolong mereka. Para rakyat kalangan miskin selalu membungkam mulut apabila dimintai keterangan akan tanggapan mereka terhadap kejadian yang menimpa para kalangan atas.
Misteri apa yang diusung White Rose?

“Heh!” desah suara berat itu seraya menutup halaman berita utama itu. Sudah berkali-kali pihak kepolisian berusaha menangkap komplotan kriminal yang meresahkan sebagian masyarakat itu.
“WR lagi yah?” tanya perempuan berponi rata tersebut memandang wajah atasannya yang sedang kusut.
“Saya bingung...,” keluh kepala polisi bagian kriminal itu mendekap kepalanya.
“Kita sudah berusaha, Pak!” hibur gadis muda itu lagi.
“Dan saya pasti dipensiunkan akhir tahun ini!” resah menjalari hatinya. Penghidupan keluarga bergantung dengan penghasilan kecil dari dirinya. Seorang polisi tidak memiliki penghasilan sebesar anggota DPR. Sebagai polisi yang jujur dan menentang dompet kanan kiri, ia dan keluarganya memang hidup sederhana.
“Biarlah, AYAH!” Rani tidak tahan lagi melihat kesedihan yang mengerutkan wajah Ayahnya.
“Kami masih bisa menghidupimu!” sambungnya meyakinkan Ayahnya.
“Ran, Ayah hanya punya empat putri.”
“Kalau Ayah pikir empat putri Ayah tidak dapat setangguh para lelaki, artinya Ayah salah!” tuturnya menghentakkan pantat ke kursi di depan kantor Ayahnya. Rani memang sangat menyukai pekerjaan sebagai polisi. Dari kecil, ia sangat bangga dengan posisi Ayahnya. Seorang polisi seperti menjadi pembela kebenaran, hero. Meskipun ia tidak lagi menjadi lebih bangga dari itu ketika ia mengetahui segunung oknum kepolisian yang tidak tulus.
Pak Handri hanya menghela nafas panjang apabila sedang mendengar ceramah putri bungsunya ini. Gadis satu ini memang cerewet dan tidak bisa berpangku tangan apabila melihat mendung sedang asik memayungi orang kesayangannya, apalagi Ayah yang paling memanjakannya ini.


~CONTINUE~

~Lily Zhang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar