Senin, 13 Februari 2012

a gift for Valentine : Amaze Night (Part One)

“Markus!” kebingungan menyergapku bahkan terperangkap dalam keterpakuan. Tidak pernah lagi kusangka akan bertemu dengannya setelah setahun kami berpisah. Tiba-tiba bayangan mesra Markus menyeruak keluar saat tatapan kami tidak terlepas lagi, detik itu.
Hingar-bingar kemeriahan pesta penyambutan hari Valentine sepertinya tidak menganggu keberadaan kami. Sepertinya aku tersihir, merasakan dentum musik sebagai alunan musik klasik yang mengantarkan kenangan di antara kami. Hentakan kaki yang berpasang-pasang menjadi iringan lagu yang mendawai kerinduan.
“Grainne ...,” ia memanggilku sehingga meruntuhkan lamunanku.
Sesaat kami terdiam, tidak mengerti harus mengatakan apa. Hatiku bergejolak, ingin rasanya berlari ke dalam pelukannya. Tetapi rasa rinduku terenggut saat seorang gadis berjalan mendekati, mengajaknya berdansa. ARGH! Apa yang kamu harapkan GRAINNE! Kurutuk diriku sendiri. Tidak ada cinta yang datang dari Markus lagi. Semuanya telah berakhir ketika setahun lalu kukatakan, “kita putus.”
Lagi. Air mataku membentengi bola mataku, hampir menghancurkan dandananku sebelum seseorang menyodorkan tangannya padaku, “bolehkan saya berdansa denganmu, Grainne?” aku menengadah, tatapanku terpaku kepada sosok lelaki yang jauh lebih tinggi dariku. Kudekap mulutku.

@@@

Aku mencintainya. Selama ini, aku tidak pernah mengalami bahagia seperti ini. memiliki pacar yang tampan dengan seribu talenta. Seorang pemain bola yang cekatan, juga musisi yang hebat, tidak lupa seorang pria dengan strategi bisnis yang lihai. Markus memang sosok yang sempurna untukku. Bagiku, tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku.
Namun semuanya musnah sebelum genap setahun kami berpacaran. Ray, pria yang kemudian datang dalam hidupku dan mengacaukan hatiku. Cinta pertama yang selalu kudambakan kedatangannya meskipun tidak pernah dapat kuperoleh. Ray orang yang sederhana, tidak memiliki semua kelebihan Markus. Namun senyum ramahnya selalu dapat meluluhkan perasaanku. Beranjak remaja, Ray orang pertama yang selalu berada di sisiku. Saat kusenang dan ketika hatiku hancur berkeping-keping mendengar kabar orang tuaku akan bercerai. Ray mengenalkan cinta untukku, mengajarkan juga serantai ketabahan.
Kehadiran Ray menguak semua misteri yang selama ini tidak pernah aku ketahui tentang hidup juga tentang cinta.
Salahku, iyah salahku dan bukan salah Markus saat kuputuskan untuk mengakhiri asmara kami. Kupilih Ray meskipun ia kemudian meninggalkanku. Pergi dan tidak pernah kembali lagi.
Penyesalan, rasa itulah yang selalu membayangi hidupku. Berkali-kali kucoba untuk mendapatkan kembali cinta Markus, tetapi bukan hanya ia yang menolakku namun juga teman-temannya.
“Pergi! Buat apa kamu kembali dalam hidup Markus?” usir teman baiknya keras.
“AKU BUKAN MENCARIMU, TETAPI MARKUS!” aku tidak akan menyerah sampai Markus menolakku. Tidak akan. Kuterobos dengan susah payah blokade dari temannya. Tidak peduli apabila satpam di rumahnya mengusirku sekali pun.
“Markus ...,” isakku di belakang punggungnya. Ia menoleh, tidak berani menatap ke dalam mataku.
“Siapa dia, Kus?” tanya seorang gadis manis yang berada di sampingnya.
“Bukan siapa-siapa!” teman baiknya menyambar dan menyeretku keluar dengan kasar. Mereka memang tidak bisa disalahkan, aku lah yang bersalah dan meninggalkan Markus, kembali ke pelukan seseorang yang bahkan tidak pernah kuketahui perasaannya, bahkan pergi meninggalkanku begitu saja.

@@@

“Grainne ...,” ia memanggil sekali lagi.
“Um ..., iyah.” Jawabku tergagap. Baru saja hatiku berdetak terlalu kencang saat menatap Markus di seberangku, mantan yang kutinggalkan untuk seseorang yang tidak berharga. Karena akhirnya aku tidak memperoleh apapun. Kini, hatiku kembali dikejutkan oleh kehadiran pria ini, yang pernah sangat mengecewakanku.
“Boleh?” tanyanya sekali lagi. Hampir saja kepalaku mengangguk sebelum akhirnya kuhentakkan tangannya.
“TIDAK!” teriakanku menghentikan langkah kaki beberapa pasangan yang berada di dekatku. Tanpa mendengar persetujuanku, pria itu menarikku menjauh dari lantai pesta tersebut.
“Grainne, kamu kenapa?” tanya pria itu masih bingung dengan penolakanku.
“Buat apa kamu muncul lagi di hadapanku?” tuduhku tidak peduli lagi dengan tatapan ramah yang terukir pada wajahnya. Kini, ia semakin tampan. Tidak lagi seperti dulu, ia menjadi lebih modis.
“Karena aku mencintaimu ...,” jawabnya mengulas segaris senyuman.
“Jawaban macam ini?” tanyaku masih mengernyitkan kening.
“Yah, aku mencintaimu. Oleh karena itu, aku ingin mengutarakannya sekarang.”
“Kenapa sekarang ..., bukannya dari dulu?”
“Karena ada rasa bersalah yang tidak lagi mampu kuucapkan.”
“Ah ...,” cibiranku datang bersama keinginanku membuang muka. Tidak tahan dengan sikap munafiknya ini. berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Namun ia mengenggam lembut tanganku, menarik kembali tatapanku. “Grainne, aku serius ..., aku mencintaimu sejak remaja dulu. Akhirnya setelah sekian lama, keberanianku muncul. Tidak lagi berani menyia-nyiakan kesempatan. Aku hanya ingin mengakui perasaanku, tidak berharap kamu membalas cintaku lagi.” Ia menyerahkan sebuah kotak dan sebuah surat berwarna pink. “Happy valentine, Grainne.” Kemudian ia mengecup pipiku lembut, membuatku terpaku bisu. Parasku ikut-ikutan bersemu merah, secerah warna pink yang berada di tanganku.

@@@

Grainne,
Sebelumnya Happy Valentine yah. Akhirnya setelah banyak valentine, aku bisa melewatinya bersamamu. Sudah lama aku mencintaimu, semenjak kita remaja. Selalu ingin di sampingmu. Tetapi aku tidak berani menyatakan perasaanku.
Saat kita bertemu kembali, kamu telah memiliki pujaan hati. Maaf, jika karenaku kamu bahkan putus dengan pacarmu. Mendengar hal tersebut, akhirnya kuputuskan untuk menghilang dari hidupmu. Tidak lama setelah kalian putus, aku mendengar kabar dari salah satu teman kita bahwa kamu memohon kembali cinta pacarmu, tetapi kamu ditolak. Perasaan salahku semakin menjadi-jadi. Tidak berani lagi untuk menemuimu, aku malu.
Tetapi tahukah kamu siapa yang menguatkan kembali keyakinanku, Grainne? Mungkin kamu tidak akan menebak kalau seseorang itu Markus. Juga dia lah yang membawaku pada pesta ini, sedangkan kamu diajak Wennie bukan? Sahabatmu itu. Semua ini sudah direncanakan. Maafkan aku jika ini menjadi bad Valentine buatmu.
Ia menyayangimu melebihi aku, mengorbankan dirinya untukku. Sekarang tinggal kamu lah yang memilih, Markus atau aku.
Ray

Kini dandananku telah hancur oleh air hangat yang mengalir turun pada pipiku. Tidak pernah kukira ada dua pria yang dengan tulus mencintaiku. Setelah menerima surat ini, aku segera menyendiri di toilet perempuan untuk membaca surat yang tidak sabar telah kusobek sebelum sampai di toilet. Tidak heran jika Wennie memaksaku untuk ikut dalam acara ini meskipun telah kutolak berkali-kali.
Kusandarkan punggungku di dinding, menopang tubuhku yang bergetar. Rasa bersalah juga hina menghinggapiku. Semua masalah yang timbul oleh karenaku akan membuat salah satu dari kedua pria ini terluka.
Memilih? Siapa yang kupilih? Pantaskah kini kupilih salah satu dari mereka?


Lily Zhang

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. membacanya saja sudah menggambarkan.. bagaimana mengalaminya...
    amaze

    BalasHapus