Rintik hujan seakan tidak menginginkan kekalahan, semakin aku melangkah cepat menuju cafe yang tidak jauh dari rumahku, semakin keras guyuran air hujan membasahi dadananku, “huh... luntur deh...” gerutuku memprotes guyuran hujan yang membasahi setiap jengkal tubuhku. Hari ini Special, khusus mempercantik diri demi surprise party buat Nee yang berulang tahun hari ini.
“Sudah siap semua mak?” ucapku tergesa-gesa saat menginjakkan kaki pada cafe yang khas dengan temaram lampunya. Desain Cafe rusuh memang dibuat seromantis mungkin dengan penataan meja bundar dan kursi kayu bersandaran bertebaran semarak. Bunga-bunga dihiasi di setiap meja, sungguh menambah suasananya yang romantis. Cafe rusuh terbagi atas dua ruangan, yakni bagian luar dan dalam. Bagian luar yang bertemankan angin semilir, dan bagian dalam yang tertutup.
“Sudah dong, Oma..” balas perempuan berambut sebahu itu percaya diri. Oma-julukan yang sudah akrab ditelingaku.
“Wadoh... si Oma datangnya pas hujan-hujan, telat lagi... emang Oma ini udah tua yah?” Ledek Sinyo, lelaki yang sedari tadi sibuk menata salah satu meja khusus yang disediakan untuk merayakan ulang tahun Nee. Aku membelalakkan mata, melihatnya dengan tatapan maut seperti harimau yang tengah kelaparan.
***
“Akuuuu datang!” seru Nee semangat. Nee melongo melihat betapa suram dan gelapnya Cafe Rusuh malam ini. Ia memandang sekitar, namun kondisi Cafe seakan tertutup, parasnya memancarkan kengerian, ia benci gelap! Namun seruan perempuan berambut sebahu yang akrab dipanggil EMAK itu menepiskan kegelisahan yang tergambar jelas pada wajahnya.
“Nee, kok baru datang sekarang?”
“Iyah mak Cat... baru kelar sedikit urusan sie...”
“Pada kemana?” sambungnya sambil celingak-celinguk mencari kehadiran teman-temannya.
Diam. Cat menunduk, mengisyaratkan wajah sedihnya. Sesegukan terjadi. “kenapa?” tanya Nee khawatir.
“Oom sinyo... oom sinyoo... jatuh dari lantai dua...” ucap emak cat sedih.
“HAH?” kaget Nee, hatinya mencelos. Rasa kaget itu membuatnya terdiam dan hanya dapat meneteskan air mata. Aku yakin, Nee pasti telah mengira musibah besar tengah menimpa temannya tersebut.
“ARGGGHHHHHH...” jeritan dan hiruk pikuk yang terdengar sontak membuat Nee berlari menuju bagian dalam Cafe.
Gelap.
***
“Happy Birthday!!!” seru para CR-ers kompakan. Kulihat rasa terkejut yang luar biasa dari wajah Nee.
“ASTAGA!!!!” Nee suprise, setiap pengurus Cafe Rusuh terlihat hadir tanpa sisa seorangpun yang tertinggal. Air mata yang tadinya diperuntukkan untuk menangisi bencana yang menimpa Sinyo, kini berganti haru. Aku tersenyum, ternyata ide yang telah kami susun dengan susah payah, berhasil mengumpankan rasa haru bagi Nee.
“Happy Birthday Nee-Nee, semoga panjang umur dan sukses selalu...” ucapku sambil memeluknya. Secara bergantian, mereka menyalami dan Nee seraya mempersiapkan makanan yang siap disantap malam itu.
“Ahhh payah... Oom sinyo-nya baik-baik saja... sayang air mataku...” jahil Nee sambil mengambil piring kosong tepat di depan Sinyo. Sinyo membelalakkan mata.
“Pengorbananku diguyur hujan, lari-lari, pluz ide konyol ‘musibah sinyo’ dari teman-teman tidak sia-sia toh Nee menangis ‘sia-sia’ untuk segala sesuatu yang tidak terjadi. Hahahah...” ucapku sambil menjulurkan lidah sembari menyantap makanan yang kini berada di depanku.
*pengurus cafe-nya tidak kusebutkan satu-satu karena mengingat ini cerita dadakan. :p
-3 juli 2011-
~Lily Zhang~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar