Jumat, 15 Juli 2011

Keluarga Keduaku

“Risauuuu...” Getir suara tertangkap telinga Vanny, gadis berambut pendek yang berkontraskan tubuhnya yang tinggi. Ia menoleh seraya berkata, “Napa Dhia?” seulas senyum tersungging menghiasi mulutnya yang lebih lebar dibanding Dhia. Sudah menjadi kebiasaan bagi Vanny mendengar keluhan Dhia yang memiliki nama lengkap Nabila Adhia. Seorang gadis berkulit sawo matang yang dikarunia mata besar nan indah. Memang ia tidaklah setinggi Vanny yang hampir mencapai 175 sentimeter, Dhia hanya diberikan tinggi 165 sentimeter oleh sang pencipta. Dhia melengos, Vanny tahu apa yang membuat gadis berwajah cantik itu meresahkan hatinya sendiri.
“Risauuu kamek ni... dua hari lagi ulang tahunku...” Jawab Dhia memandangi kalender harian yang menunjukkan tanggal senin, 4 Juli 2011 – seperti itulah yang terbaca Dhia.
“Lalu kenapa?” bingung Vanny.
“Iyalah... bagaimana tidak risau kalau...” Dhia bimbang untuk menceritakan kekhawatirannya, bingung cara penyampaiannya kepada sahabatnya.
“Kalau apa Dhia?” tanya Vanny penasaran, ia menghentikan aktivitasnya sesaat sebelum akhirnya melanjutkannya. Saat itu mereka sedang bekerja di salah satu perusahaan elektronik terbesar di kalimantan barat, Pontianak.
Sebelum sempat mendapatkan jawaban dari Dhia, lagu Trouble is a friend – Lenka berbunyi beberapa kali dan sambung menyambung menyudahi percakapan mereka yang terbilang singkat tersebut.

Randy
Babiii..., tgl 6 juli ini kita bisa nonton dong... ^^ suntuk nih...

Steve
Hari rabu ini aku off loh.. kamu ada janji? J

Tora
Tggl 6 juli, lu ultah yah? Rayain sama” yok? Gue booking yah... bisaaaaaaa yah? Gue berharap bangeett...

“Ini bertiga pada janjian yah? Ngajakin jalan, bersamaan...!” gusar Dhia sambil menopang dagunya pada kedua tangannya.
“Wahhh.. cieeee.... gebetannya banyak” ejek sang kepala gudang yang kebetulan mendengar percakapan Dhia.
“Diam kau lekong jadi-jadian!!!” jerit Dhia melengking.
“Ooo... you risauin itu para tiga lekong???” sambung Vanny menimbrung ejekan sang kepala gudang, Andre – begitulah namanya tercatat dalam KTP-nya.
“Suiiiiiitttt.... Dhia gitu loh...” ejek Handy menambahkan, laki-laki berperut buncit yang bernasib menjadi Supervisor perusahaan itu.
“Ahhhh Risau...” Dhia berlalu dengan jengkel.

***

Pagi menjelang, resah dihatinya masih tidak terbilang berkurang, malah bertambah. Dhia merasa tidak mampu menghadapi ketiga laki-laki yang kini mengejar cintanya – seperti itulah mungkin yang terkira oleh Head Finance-nya di kantor, Lucy.
“Awas kalian...” ancam Handy pagi itu, saat deru motor Dhia baru saja dimatikan.
“Apaan sih ko?” Dhia mengernyitkan dahinya pertanda ia jengkel dengan ancaman Handy serta pikirannya yang tercampur aduk.
“Risauuuu...” sambung Vanny yang mencium gelagat mencurigakan Supervisor mereka yang satu ini.
“Jangan macam-macam ye... tak berkawan kitak ntar...” ancam Dhia membulatkan matanya yang telah dilahirkan bulat dan besar namun tidak menakutkan, namun terkesan indah dilihat.

***

“Pasti mereka merencanakan sesuatu yang tidak enak, tadi gue lihat dari kejauhan kalau si ko Handy dan Andre sedang berbisik-bisik..”
“Iyah wa... hari ini kan ulang tahunku... apalagi kita udah bicarain untuk merayakannya bersama-sama, pasti mereka dengar...” sambung Vanny ikut resah.
“Tapi bukan hanya keresahan tentang ko Handy, tapi keresahan bagaimana aku harus membalas message mereka bertiga yah? Randy, Steve, dan Tora?”
“Lu sreg dengan yang mana lah?”
“Gue nggak tau...” tutur Dhia lemas.
“Gue pernah curhat dengan cik Lucy... hanya saja tetaplah bimbang...” sambung Dhia bermaksud ingin curhat dengan Vanny.
“Terus, cik Lucy saraninnya apa?” tanya Vanny memancarkan rasa ingin tahu yang sangat besar, menggeser kursi kerja yang beroda mendekati Dhia.
“Hmm... rasanya tidak perlu kubeberkan lah...” tolak Dhia halus, tidak ingin menceritakannya secara lebih detil.
“Oooh.. keputusan akhirnya berada padamu...”

***

“Happy birthday to them.. happy birthday to them...” nyanyian lagu ulang tahun yang dipersembahkan Candy sungguh mengharukan. Vanny dan Dhia meneteskan air mata. Dhia khususnya, di setiap ulang tahunnya yang ‘sendiri’ dan tidak pernah mendapatkan kue ulang tahun di tahun-tahun kemandiriannya. Selasa ini merupakan ulang tahun berkesan baginya. Bukan 6 juli 2011 memang – hari kelahirannya yang sebenarnya, karena dirayakan bersamaan dengan sahabatnya Vanny, never mind.
Dua puluh satu batang lilin diletakkan diatasnya. Kue ulang tahun mungil itu dilapisi krim coklat dan dihiasi beraneka ragam batangan coklat maupun coklat yang beraneka ragam bentuknya. Tulisan diatasnya sarat dengan kedua nama mereka yakni Vanny dan Dhia.
Berbicara tentang Candy. Gadis manis berwajah ayu bulat yang masih berusia 11 tahun itu memang tumbuh dewasa sebelum waktunya. Ia adalah anak dari kakak perempuan Dhia.
“Selamat ulang tahun ie-ie...” ucapnya seraya mencium kedua pipi tantenya yang kini basah oleh airmata.
“Sudah.. ie-ie jangan nangis lagi.. kayak anak kecil saja...” sambungnya sebal dengan sifat kekanakan tante kandungnya.
“Iyah...” gumam Dhia bahagia, keresahannya terlupakan sesaat.
“Selamat ie-ie Vanny...” Ucapnya sekali lagi pada sahabat tantenya itu.
“Makasih Candy...”

***

Jam di dinding menunjukkan pukul 5 kurang seperempat. Kembali keresahan itu bersorak ria dalam hatinya. Sial! Runtuknya dalam hati. Makin malam makin risau pula gue! Kenapa hari ini harus pergi secepat ini? Dan mengapa harus ada esok... ungkapnya dalam hati.
“Dhia... Vanny... sini... ada pawai nih...” panggil Handy menjerit-jerit. Tersentak dari lamunan, Dhia dan diikuti Vanny memburu ke depan.
“SURPRISEEEEEEE!!!!!” teriak Handy, Andre, Lucy, dan teman-teman sejawatnya memberikan surprise yang tidak akan terlupakan oleh Vanny dan Dhia. Andre dengan semangat yang menggebu-gebu melempari telur dan tepung ke arah kedua gadis tersebut, mereka saling berkejar-kejaran. Handy tentunya tidak mau mengalah, ia pun ikut-ikutan melempari kedua gadis yang pada akhirnya tidak berdaya oleh kedua laki-laki yang terhitung sangat jahil tersebut.
Lelah menciptakan kediaman pada Dhia. Suprise tentunya membuat mereka tertawa bahagia, namun tidak bagi Dhia. Ia menangis, menangis sekencang-kencangnya.
“Kenapa?” tanya Handy dan Andre berbarengan.
“Te-Terima kasih...” ucapannya terdengar serak. Sesegukan terdengar dalam nadanya. Ia menangis senang. Senang sekali. Baru pertama kalinya ia mengalami surprise. Baru pertama kali ia begitu diperhatikan. Baru pertama kali ia merasa begitu disayangi, dan baru pertama kali ia merasa ada arti keberadaannya. Yah, memang sejak orang tuanya berpisah, ia harus hidup berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya.
TIDAK LEBAY! Ia memeluk Andre dan Handy. Kedua laki-laki itu pun tidak berkata apa-apa, mereka merasakan keharuan dari Dhia. Vanny memandang dan tersenyum. Dhia sesegukan, namun kemudian ditenangkan juga oleh kedua laki-laki itu. Dan mereka melakukan ini semua karena mereka sayang Vanny dan Dhia. Sukses kedua laki-laki tersebut tertular bau telur yang bercampur tepung sewaktu memeluk Dhia yang getir tadi.
“Happy birthday yah...” ucap Handy, Andre, dan karyawan lain menyalami Dhia dan Vanny, tidak lupa mereka berdua.
“Kita sudah seperti keluarga... Happy birthday...” Ucap Lucy mengakhiri ucapan-ucapan lainnya.
“Makasih...” tulus Dhia mengucapkan terima kasih. Semua gundah gulana-nya tersau sesaat waktu itu. Menguap begitu saja. Mungkin merayakan bersama pasangan tidak akan seindah merayakan bersama keluarga keduanya di kantornya ini. Yah, bagi Lucy yang memiliki tinggi tidak jauh berbeda dengan Dhia, kantor adalah keluarga kedua, dan begitulah anggapan Dhia saat ini. Ia merasakan kehangatan keluarga di sini yang tidak sehangat yang ia dapatkan.

Lebih dari desir darah
Lebih dari pengakuan pertalian
Meskipun ada Pertengkaran, kegelisahan, marah
Namun selalu ada Kedamaian, kerukunan, kasih sayang
Menjadi kehangatan...

Keluarga keduaku....
Dhia~


Epilog

Akankah keresahan itu bertamak dalam hatinya Atau kehangatan ‘keluarga kedua’nya telah mampu meredakan kegalauan yang tidak memiliki alasan yang kuat bermukin terhadapnya? Siapakah lelaki yang mengendap dihatinya? Bagaimana Dhia menghadapi semuanya? Nantikan kisah selajutnya (Note : kalau inget) pada tenggat waktu 6 Juli 2012. Hehehhe... ^^


*just imaginative story. A small gift to Chow Xiao Mei for her birhtday 6 July 2011. Hope your pray comes true. Wanna comes true? Don’t forget pray to God. God Bless You. Amin.



~05/07/11 19:28~

~Lily Zhang~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar