Jumat, 15 Juli 2011

Lomba Cerpen Mimpi : Bukan Mimpi

Pandangan mataku menyapu ke segala sudut ruangan ini. Kukenali sebagai sebuah kamar sederhana yang apik. Berbagai macam barang tersusun rapi pada SpringBed bernuansa merah menyala. Di beberapa tempat tampak dihiasi oleh aksara mandarin. Akhirnya kumaknai bahwa ruangan ini adalah ruang tidur persiapan untuk pasangan pengantin yang menikah dalam adat Tionghoa.
Terkaget sendiri menyadari diriku tidak berada pada kamar tidurku sebagaimana semestinya. Kupandang kostum yang kugunakan, baju tidur. Tanpa dapat kukendalikan keningku mengernyit menandakan kebingungan dengan situasi yang berbeda antara tempatku berada dengan pakaian yang kini melekat di tubuhku.
“Sayang... kamu kenapa berdiri mematung dan kayaknya sedang melamun gitu” Tegur sebentuk suara yang sangat kurindukan kehadirannya. Terkejut aku pun menoleh memandang ke arah datangnya suara tersebut. Jantungku hampir saja melompat jikalau saja tidak ada lapisan-lapisan dalam tubuh yang menahannya.
“Ooooohhh ti-tidak ada apa-apa...” Jawabku segera berusaha menutupi ketegangan yang tidak sungkan-sungkan merajai hatiku.
“Ayokk kita beli barang-barang yang kurang untuk pernikahan kita...” Ajak Bram sambil menarik tanganku.
“hmmm... i-iya...” Kataku memenuhi ajakannya sambil menatap bingung perbedaan diantara kami.
Bram adalah cinta pertamaku yang tidak pernah dapat kuraih. Yang pernah kuimpikan adalah bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama seperti yang kurasakan. Namun sekarang tanpa kusadari sama sekali kami akan menikah sebentar lagi, bahkan kamar pengantin pun telah dipersiapkan.
Perasaanku mengatakan ini benar-benar seperti mimpi. Seorang Bram yang kini telah meraih kesuksesannya berkat usahanya sendiri sehingga dapat memiliki aset seperti rumah, mobil, dan perusahaan bersedia bersanding dengan diriku yang tidak memiliki satu pun hal istimewa yang bisa dibanggakan.

****

“Ehmmm... ta-tapi bajukuu beginii Bram?” Protesku sungkan.
“Bram??? Kok panggil Bram?” Langkah Bram terhenti dan memperhatikan raut mukaku.
“Mak-maksudnya... sayang...” Kurasakan parasku panas membara.
“Nah.. gitu dong... kamu ini... kita kan udah mau married... gak pa pa sayang... pakaian apapun yang melekat di badanmu, kamu tetap cantik...” Gombal Bram tersenyum simpul.
“Tapi kamu kan pakai jas segala... kontras dunk...” Rengekku memprotes.
“Yahh udahhh... kubuka nih jasku... kita deket-deket ajah kok sayang...” Kata Bram mengarah sambil melemparkan jas yang telah dibukanya ke sofa ruang tamu mereka.
Aku pun tersenyum dan mengandeng salah satu sisi tangan Bram dan melenggang menuju mobil CRV hitam kebanggaan Bram.

****

Terpatuk diriku di depan sebuah cermin yang memantulkan sebuah bayangan gadis yang sedang berdiri anggun dengan balutan busana yang elegan menghiasi sekujur tubuh berisinya. Rambutnya tergerai bergelombang sementara sebagian kecilnya terangkat membentuk sanggul indah dihiasi kuncup bunga cantik yang memperindah bentuk oval wajahnya. Terpesona diriku dengan terpaku memandang sosok di depan yang kukenali sebagai gambaran diriku dalam balutan busana pengantin berwarna putih damai.
Kulenggak-lenggokkan pinggulku untuk memandang keseluruhan gaun yang telah lama kuidamkan untuk kugunakan apalagi bersama dengan orang yang kusayangi.
“Kak... sudah selesai?” Tanya pemilik suara parau yang adalah adik semata wayangku.
“Sudah...” Jawabku menyunggingkan senyum bahagia.
“Pengantin pria telah datang...” Sambung Verdy cepat.
Hatiku telah tidak sabar menantikan kesempatan seperti sekarang ini, tanpa berniat menunggu lagi, aku berjalan cepat meninggalkan kamar yang sedari tadi kutempati.
Seorang lelaki gagah layaknya pangeran dengan tinggi tubuh semapai membuatku terheran-heran. Seingatku, siluet tubuh Bram sama sekali berbeda dengan pria yang kini berdiri membelakangiku dan sekilas kulihat seikat mawar merah merekah indah menemani tangan kosong, yang dapat kuyakinkan jikalau tidak ada bunga itu tentunya akan kosong melompong.
“Kakak ipar...” Goda Verdy sambil mengerlingkan matanya.
Sesaat kuberdiri mematung sangat lama seakan tersambar petir ketika mengenali siapa dibalik punggung tegap itu, Frans. Terasa sekali seluruh mulutku dan gigi terasa kering karena sekarang mulutku menganga tidak menyangka apa yang kusaksikan di hadapanku. Frans, mantan pacarku yang terakhir yang membiarkanku memutuskan hubungan kami dengan alasan yang samar-samar kuartikan sebagai rasa bosan yang menjalari hubungan kami yang datar.

***
 Tubuhku seakan ditarik ke ujung tempat dan tiba di suatu sisi yang tidak pernah ingin kuingat. Kudapati diriku menangis haru bukan karena bahagia, tapi karena berakhirnya hubunganku dengan kekasih hati yang begitu kukasihi.
BRAK! Pintu membuka sesaat setelah air mata begitu membanjiri kedua pipiku. Pria tinggi itu menghampiriku dan memelukku erat.
“Semua hanya mimpi sayang.. kita belum berakhir... hanya salah paham sayang...” Katanya menenangkan setiap kegetiranku.
“Benarkah itu Frans??” Tanyaku tidak percaya.
“Benar...”
“Tidakkk... itu bohong... kamu bilang kamu sudah tidak punya feeling ma aku...” Protesku sambil mendorong jauh tubuh Frans dari hadapanku.
“ARGHHHHHHHHHHHHHHHHHH...” Kurasakan tubuhku terpelanting terbalik jatuh.

***

Kuterjaga dari tidurku. Kupandang sudut kamar yang kecil, sekali lagi kukenali itu adalah bagian kamar dari rumah nenek, ibunda dari ayahku. Kumelangkah keluar dan kukenali beberapa orang yang aneh di dalam rumah itu, dan tidak kukenali.
Rasa lelah membantai setiap sudut tubuhku, sakit rasanya. Kurebahkan tubuhku pada kursi yang terbuat dari plastik bersandaran. Mataku menerawang keluar rumah. Kuingat. Inilah rumah yang telah kutinggali lama sekali, bukan hanya rumah nenekku, tapi juga rumahku.
Terpekur kaget, kumenatap pemandangan yang sungguh menusuk lubuk hatiku. FRANS! Lagi-lagi dia menghiasi hidupku. Yah... dia mengandeng seseorang yang jauh dari cantik. Kalaupun dibandingkan denganku, mungkin saja aku lebih cantik. Kuperhatikan mereka dengan seksama. Hatiku sakit sehingga kalaupun aku tidak tertegun menatap mereka mungkin saja kuremas daging-daging di dadaku seakan berusaha mengobati rasa sakit yang seharusnya tidak dapat diobati dengan remasan di dada.
Frans mengandeng mesra sang gadis yang berperawakan rambut sebahu dan berkulit kuning langsat itu. Gadis bermata besar itu memandang Frans dengan senyum simpul yang manis sekali. Seakan ingin membuatnya mati sakit hati karena cemburu, mereka hanya berdiri dan saling mengobrol tanpa menyadari ada diriku yang memperhatikan mereka dari tadi.
Pelupuk mata membentuk danau yang semakin lama membendung akan merusak pertahananku untuk tetap berusaha tegar dengan melihat kemesraan kekasih hati dengan orang yang sama sekali asing bagiku.
Kuingin melangkah mendepak Frans yang telah mengkhianati kepercayaanku, namun langkahku tidak mampu menjangkaunya, bahkan rasanya tubuhku tidak bisa berdiri dari tempat dudukku.
Akhirnya kumenagis menjerit sambil mendekap erat mataku dari pandangan yang sangat menyakitkan bagiku. Meskipun hal itu sia-sia, tapi setidaknya dapat melegakan hatiku yang terpaut gundah.

***

“Lin... Lin...” Panggil suara keibuannya bunda.
“Huhu...” Tangisku.
“Sayang.. bangun...” Lanjut Bunda.
Mataku mengerjap terbuka diiringi senyum bunda yang selalu dapat menenangkan setiap kegundahan dan menyapu segala keresahan hatiku.
“Bun...” Rengekku seperti anak kecil yang kehilangan permennya.
“Ada apa sayang? Kok sampai basah oleh keringat begini? Mimpi apa?” Tanya bunda lembut.
“Lin mimpi macam-macam bun... sampai capek banget Lindy nih...” Ungkapku pendek.
“Lin mimpi tentang pernikahan...” Lanjutku bingung.
“Yah.. wajar Lin, kamu kan baru saja dapat kejutan dilamar sama pujaan hatimu itu... nah... namanya ketakutan sebelum pernikahan... wajar banget sayang.. bahkan ada yang sampai ingin membatalkan pernikahan gara-gara kecemasan yang dialami sebelum hari pernikahan, karena mereka belum pernah mengalami hal seperti ini... yah wajar acara penting begini...” Jelas Bunda berusaha meyakinkanku.
Kusunggingkan senyum malu-malu setelah dijelaskan oleh bunda. Parasku pasti merona karena kurasakan panas di sekujur wajahku.
Masih terlintas dalam ingatanku bagaimana Bram, cinta pertamaku yang tidak  pernah bisa kulupakan melamarku.
“Lin... ma-maukah kamu menikah denganku???” Tanya Bram dengan wajah merah padam seperti kepiting rebus terlihat jelas dikarenakan warna kulitnya yang putih seraya mengenggam tanganku saat dia mengajakku makan malam.
“Hmmm... benar lahh Bram?? Kamu ngajak aku nikah?” Balasku membelalakan mata yang menandakan aku tidak percaya dengan keadaan itu.
“Saya seriussss Lin...” Ucapnya memasang tampang serius yang semestinya membuatku tertawa bilamana moment itu adalah moment biasa. Namun hari itu, diriku tergugup.
“Tapi... apakah perasaanku bersambut denganmu???” Ragu dia bertanya kembali.
Seperti kesempatan yang begitu kuidamkan akan hilang, secepatnya kuberikan jawaban, “Iyah...”
“Benar???” Senyum menghiasi wajah Bram.
“Iyah.. sudah sejak dahulu a-akuu... su-suka... kamuu...” Wajahku serasa terbakar setelah mengungkapkan perasaanku.
“Suka saja??? Aku cinta sama kamu... juga sejak dahulu... dan aku tidak bisa melupakanmu, dan kita dipertemukan kembali, semula kukira sudah tidak ada perasaan itu, namun sejak bertemu denganmu secara tidak sengaja membagkitkan cintaku.. cinta yang mungkin bukanlah pertama tapi cintaku ternyata tanpa kusadari, tidak pernah berubah...” Luapan perasaan Bram membuatku terharu.
Kubalas genggaman tangan Bram malam itu, “Aku pun begitu” sesaat wajah putus asa Bram berubah menjadi wajah penuh sumringah.
“Okay... kita menikah secepatnya”

***

Kucubit tanganku untuk memastikan diriku kini sedang tidak bermimpi. Dihadapanku kini berdiri sesosok tubuh yang tidak pernah asing bagiku. Dialah Frans. Pria yang semalam muncul dalam mimpiku, berkali-kali sehingga rasa lelah merajai jiwaku.
“Lin...”
“Ada apa Frans?” Tanyaku sekedarnya.
“Tidak bolehkah aku masuk?” Tanya Frans basa-basi.
“iyah.. silakan”
Frans duduk dihadapanku sambil memandangku dengan mata sayu yang mengisyaratkan ada kesedihan terpancar dari matanya.
“Ada apa?” Ulangku tidak sabar.
“Hmmm... bisakah kamu membatalkan pernikahanmu?” Ungkap Frans dengan mengenggam erat tanganku hingga susah untuk kutolak akibat genggaman erat tangannya itu.
“Apa maksudmu?” Kubelalakkan mata dengan perasaan bercampur antara kaget dan kesal.
“A-aku... ingin menikah denganmu...” Ucapan itu membarengi kedatangan Bram yang ternyata telah berdiri di pintu masuk. Mata Bram menyiratkan kesakitan dan kecemburuan tergambar dari langkahnya meninggalkan rumahku.
“Bram...” Panggilku seraya berusaha melepaskan genggaman tangan Frans. Tidak dengan mudah dilepaskan Frans, dia malah memperketat genggamannya. Mungkin itulah tujuannya, mem-Broken hubunganku dengan Bram.
Saat kuberhasil melepaskan tangan, Bram telah pergi dengan mengendarai mobilnya secepat kilat.
“KELUAR KAMU FRANS... AKU TIDAK INGIN MELIHAT WAJAHMU LAGI...” Usirku kejam, tanpa basa-basi.
“Lin...” Kembali Frans mengenggam tanganku.
“Aku masih sayang sama kamu...”
“LEPASKAN!!!” Jeritku sehingga terasa menggema di rumahku yang kini hanya terdapat kami berdua di dalamnya.
“Aku masih sayang sama kamu...” Ulang Frans dengan suara getirnya.
“DIAM! Kamu tak lebih dari kenangan terburukku yang patut kukubur... kamu yang memulai semuanya.. kamu harus menanggung resikonya... sudah cukup... yang kuinginkan hanya BRAM!” Kutekankan nama Bram untuk meyakinkan Frans bahwa hubungan kami tidak akan bisa diperbaiki lagi.
Dilepaskannya kembali tanganku yang kecil seraya melanjutkan penjelasnnya, “Mungkin sudah terlambat bagiku, namun aku hanya ingin kamu dengar... saat mendengar berita bahwa aku akan kehilangan dirimu, baru aku sadari bahwa kamu begitu berarti bagiku...”
Aku tidak berusaha beranjak dari tempat itu karena perasaan tidak tega begitu menguasai diriku.
“Bukan saat kehilagan, kita mrasa memiliki.. Tpi justru saat khlgan, kita dapat merasakan arti menghargai apa yg kita miliki“ Sesaat kusapu semua kata-kata Frans dengan beberapa kalimat itu, kupersilakan dia untuk meninggalkan rumahku.
Gundah akhirnya menemaniku sore itu. Resah akan kemungkinan gagalnya pernikahanku yang begitu kunantikan.

***

Tiga hari lagi adalah hari pernikahanku, namun aku tertimpa masalah seperti ini. Sudah berlalu empat hari sejak masalah yang menimpaku. Besok adalah hari pertunanganku. Persiapan kami belumlah selesa, namun Bram tidak terdengar kabar beritanya.
“Bun... mimpiku beberapa hari lalu mungkin pertanda buruk bun..?” Ucapanku getir, teramat cemas untuk didefinisikan dalam tulisan.
“Mimpi itu bunga tidur sayang... realita inilah yang kita jalani... kamu masih mau menunggu” Kata Bunda menjelaskan.
“Aku tak bisa menunggu Bun...” Ucapku khawatir.
“Yah.. sebaiknya kamu tidak menunggu lagi... pastikan dengan Bram... semua akan baik-baik saja..” Hibur Bunda.
“Ayokk sana... ke calon rumah barumu... ayah rasa Bram dewasa dalam menanggapi, mungkin sekarang dia sedang menunggumu untuk menjelaskan semuanya...” Gurau ayah seraya mendorongku untuk berani menghadapi masalah.
“Iyah bun.. ayah... adinda pergi dulu...” Usahaku untuk menenangkan hati dengan menyelipkan candaan dalam ucapanku.

***

Kuberjalan cepat menuju kamar tidur Bram setelah bertegur sapa dengan orang tua Bram.
“Bram...” Panggilku, namun hening.
“Bram...” Panggilku lagi. Dua kali panggilan gagal dijawab oleh Bram, kucoba mengisengi dia meskipun rasa cemas memasuki ruang pribadi hatiku.
“Sayang...” Ucapku pelan.
“Iyah, masuk...” Tidak terkira jawaban itu menenangkan seluruh perasaanku namun tetap saja ada kecemasan yang menelungkup dalam jiwaku. Aku melangkah hati-hati sambil mendorong pintu kamarnya yang berat. Terlihat peluh menghiasi wajah tampannya dengan kemeja putih bergaris merah kesukaannya. Lengan bajunya disingsingkan selengan. Memperlihatkan urat-uratnya di sela otot-ototnya yang terbentuk sempurna.
“Oooh sayang... kukira Mommy..” Ucapannya masih terlihat ramah seperti biasanya.
“Sayang...” Tangisku setelah berlari memeluk tubuhnya yang tidak begitu tinggi melampauiku. Terisak. “Maaf sayang... itu bukan maukuu... bukan maukuu...”
“Sayang.. kenapa??” Tanya Bram bingung.
“Itu sayang.. tempo hari... Frans...” Bram tersenyum mendengar kata-kataku yang terpatah-patah.
“Oooh... kamu khawatir yah?? Aku tidak apa-apa sayang... meski awalnya agak sedikit sakit sih.. tapi bundamu sudah menjelaskannya setelah kutanya...” Ucap Bram seraya mengelus rambutku yang panjang.
“Bunda...” Kaget, wajahku yang bersandar di dadanya akhirnya menoleh menatapnya.
“Iyah... aku bukan anak kecil yang langsung ngambek. Saat itu aku kaget dan tanpa kusadari, aku sudah beranjak pergi sayang... jangan kuatir, jadi? Masihkah kamu kuatir?”
“Nggak. Kalau kamu fine. Aku sayang kamu, hanya kamu...” Ungkap dari lubuk hati terdalamku tulus.
“Terima kasih sayang... begitupun aku.” Balas Bram tersenyum.

 ***

Mimpi adalah bunga tidur dan terkadang mimpi itu juga bukan merebakkan wangi, kadang ia berbau busuk. Terkadang juga kita terpengaruh mimpi sehingga mengimplementasikan di alam nyata.
Segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak yang kuasa, begitupun di saat hari ini. Dimana segala sesuatu yang kuimpikan menjadi kenyataan.

***

Terpatuk diriku di depan sebuah cermin yang memantulkan sebuah bayangan gadis yang sedang berdiri anggun dengan balutan busana yang elegan menghiasi sekujur tubuh berisinya. Rambutnya tergerai bergelombang sementara sebagian kecilnya terangkat membentuk sanggul indah dihiasi kuncup bunga cantik yang memperindah bentuk oval wajahnya. Terpesona diriku dengan terpaku memandang sosok di depan yang kukenali sebagai gambaran diriku dalam balutan busana pengantin berwarna putih damai.
Ada suatu perasaan tertelungkup, rasanya diriku pernah mengalaminya. Dan kemudian aku akan melenggak-lenggokkan pinggangku dan kemudian saudara lelakiku yang semata wayang akan memanggilku. Tidak berapa lama seakan dejavu kuperoleh kembali gambaran keadaan yang pernah kualami.
“Kak... sudah selesai?” Tanya pemilik suara parau yang adalah adik semata wayangku.
“Sudah...” Jawabku menyunggingkan senyum bahagia.
“Pengantin pria telah datang...” Sambung Verdy cepat.
Kecemasan menguasai perasaanku. Akankah berakhir sama dengan mimpi. Kulangkahkan kakiku perlahan dan ragu. Ketakutan semakin merajai ketika kemudian aku harus menghadapi pria yang berada di ambang pintu masuk rumahku. Mataku terpejam dan tidak ingin mendapati kenyataan yang tidak pernah kuharapkan.
“Sayang...” Suara lembut itu menguasai hatiku.
Perlahan kubuka mataku dan kuyakinkan bahwa perasaan lega yang merasuki perasaanku adalah benar. Dan berdiri gagah dibelakangi cahaya mentari pagi, seseorang yang sangat kucintai berdiri membuka lebar kedua lengannya dengan salah satu sisi tangannya memegang bunga lily kesukaanku. Bunga favoritku terlihat putih bersih ditimpa cahaya, indah terasa bersinar. Kurebahkan tubuh dan parasku ke dalam pelukan pageranku. Pangeranku bukan mimpi, dia nyata.
“I love you my prince...”

The End

~Lily Zhang~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar